PLAGIARISME DIKALANGAN MAHASISWA

DALAM MEMBUAT TUGAS-TUGAS PERKULIAHAN

PADA FAKULTAS TARBIYAH IAIN IMAM BONJOL PADANG

 

Engkizar, SIQ, M.Ed

Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM)

engkizar_quran@yahoo.com

HP: 0821-342649

Muhammad Zalnur M.Ag

Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol (IAIN-IB) Padang

Tel: 0853-75909908

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk perilaku plagiarisme yang dilakukan oleh mahasiswa dalam menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan dan faktor-faktor penyebab timbulnya perilaku plagiarisme tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan kajian kes (case study research design). Data penelitian sepenuhnya diambil melalui wawancara mendalam (indepth interview) kepada sepuluh responden yang terlibat yang terdiri dari enam mahasiswa dan empat mahasiswi yang sedang belajar di Fakultas Tarbiyah IAIN-IB Padang. Seluruh data penelitian ini kemudian dianalisis secara tematik menggunakan alat analisis kualitatif NVivo 8. Hasil penelitian mendapati bahwa terdapat tiga bentuk perilaku plagiarisme yang sering dilakukan mahasiswa dalam meyelesaikan tugas-tugas perkuliahan: (i) mengambil tulisan orang lain kemudian diakui sebagai karya sendiri, (ii) mengambil idea atau batang tubuh pikiran orang lain untuk selanjutnya dirubah ke dalam bahasa sendiri dan (iii) mengambil teks secara keseluruhan tanpa mengubah tulisan maupun menambah dengan analisis maupun komentar apapun. Sedangkan faktor-faktor penyebab timbulnya tindakan plagiarisme tersebut adalah: (i) perkembangan teknologi informasi dan (ii) tingginya volume tugas perkuliahan sedangkan alokasi waktu yang tersedia sangat terbatas.

Kata Kunci: plagiarisme, bentuk-bentuk perilaku plagiarisme, penyebab plagiarisme

1.Pendahuluan

Plagiarisme berasal dari bahasa latin plagiarus yang bermakna penculik (Saunders, 1993). Sedangkan di dalam kamus Law Dictionary (2003) plagiarisme didefinisikan sebagai berikut:

                “Taking the writings or literary concepts (a plot, characters, words) of another and selling and/or publishing them as one’s own product. Quotes which are brief or are acknowledged as quotes do not constitute plagiarism. The actual author can bring a lawsuit for appropriation of his/her work against the plagiarist and recover the profits. Normally plagiarism is not a crime, but it can be used as the basis of a fraud charge or copyright infringement if prior creation can be proved.

                Sementara (Felicia Utorodewo 2007; Eri Wijaya 2008) telah menetapkan tujuh ciri-ciri tindakan plagiarisme yaitu:

  1. mengakui tulisan orang lain sebagai tulisan sendiri.
  2. mengakui gagasan orang lain sebagai pemikiran sendiri.
  3. mengakui temuan orang lain sebagai kepunyaan sendiri.
  4. mengakui karya kelompok sebagai kepunyaan atau hasil sendiri.
  5. menyajikan tulisan yang sama dalam kesempatan yang berbeda tanpa menyebutkan asal-usulnya.
  6. meringkas dan memparafrasekan (mengutip tak langsung) tanpa menyebutkan sumbernya.
  7. meringkas dan memparafrasekan dengan menyebut sumbernya, tetapi rangkaian kalimat dan pilihan katanya masih terlalu sama dengan sumbernya.

           Kramer et al (1995) dan Wray (2006) menyatakan bahwa palgiarisme terjadi ketika seorang penulis mengambil karya intelektual seperti gagasan, pendapat, temuan, simpulan, data, kalimat dan kata-kata orang lain sehingga pembaca menganggap bahwa karya intelektual itu merupakan karya penulis tersebut. Dari defenisi serta pendapat di atas, maka dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa tindakan plagiarisme merupakan salah satu “kejahatan intelektual” yang terjadi di dalam dunia akademik, kejahatan tersebut dapat tergambar dari perilaku pencurian, penipuan, penculikan dan pengakuan hasil penelitian maupun tulisan orang lain yang kemudian diakui sebagai karya sendiri

2. Latar Belakang Masalah

Sebelumnya telah coba peneliti sentuh bahwa tindakan plagiarisme merupakan sebuah bentuk kejahatan di dalam dunia akademik. Di Indonesia kasus-kasus plagiarisme di dunia akademik bukan lagi isu yang baru. Menurut (Fasli Jalal 2010) bahwa tindakan plagiarisme (menjiplak) karya tulis ilmiah orang lain yang kemudian diakui sebagai karya sendiri sebenarnya sudah lama berlangsung di berbagai institusi perguruan tinggi di negeri ini. Beliau lebih lanjut menjelaskan bahwa sesungguhnya kasus plagiarisme tersebut tidak hanya dilakukan oleh para kaum civitas akademik seperti mahasiswa, dosen dan guru, akan tetapi juga dilakukan oleh pejabat publik di berbagai institusi pemerintah lainnya.

Pernyataan di atas menurut peneliti bukanlah tidak mempunyai dasar, perkara tersebut dapat dibuktikan dengan sebuah kasus berikut. Sebagai contoh peneliti akan mengungkapkan sebuah kasus plagiarisme yang menimpa X, seorang jaksa yang pernah dicalonkan sebagai pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beberapa tahun silam. Ia diduga melakukan tindakan plagiarisme dalam menyusun disertasi doktoralnya. Perkara tersebut terungkap ketika pada uji kelayakan dan kepatutan (fit and property test) komisi III DPR mencurigai bahwa X telah melakukan tindakan plagiarisme lantaran menyelesaikan disertasinya hanya dalam waktu setahun. Wila Chandrawila anggota komisi III DPR waktu itu yang juga guru besar Fakultas Hukum Universitas Katholik Parahiyangan menyatakan, bercermin dari pengalamannya selama tiga puluh tahun membimbing disertasi para mahasiwa, mengungkapkan tidak pernah ada calon doktor yang mampu menyelesaikan disertasinya dalam tempo setahun.

Untuk mengatasi meluasnya permasalahan plagiarisme di dunia akademik maupun institusi pemerintahan di Indonesia tersebut, maka pemerintah sebenarnya telah membuat peraturan menyangkut sanksi bagi pelaku tindakan plagiarisme. Berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 dinyatakan bahwa sanksi atas tindakan plagiarisme dalam persoalan karya tulis sebagai berikut. Lulusan PT yang karya ilmiahnya digunakan untuk memperoleh gelar akademik, profesi, atau vokasi, terbukti merupakan jiplakan, dicabut gelarnya (pasal 25 ayat 2). Lulusan yang tersebut pada pasal 25 ayat 2 dipidana dengan pidana penjara paling lama dua tahun, dan atau pidana denda paling banyak Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah). (Yasasan Rumah Ilmu Indonesia.E-Journal 2010).

Maka menurut peneliti perlu diadakan kajian-kajian lanjutan tentang isu-isu sentral seputar perilaku plagiarisme seperti apakah bentuk-bentuk tindakan plagiarisme yang marak dilakukan oleh mahasiswa? Apakah faktor-faktor penyebab timbulnya perilaku plagiarisme tersebut?. Kajian-kajian dalam konteks dan isu yang berbeda juga perlu dilakukan sehingga dapat memperluas wawasan masyarakat luas kususnya kalangan akademik seperti mahasiswa, dosen dan guru tentang plagiarisme. Penelitian ini juga peneliti anggap begitu penting karena belum ada satupun kajian yang dilakukan oleh dosen maupun mahasiswa di IAIN Imam Bonjol Padang yang membicarakan plagiarisme.

 3. Literatur Review

Para peneliti terdahulu seperti (Davis 1993; Fishbein 1993; Bowers 1994) menyatakan bahwa, tingginya angka tindakan plagiarisme yang terjadi di dunia akademik akhir-akhir ini merupakan sebuah bukti bahwa kaum intelektual seperti mahasiswa, dosen, guru, professional tidak lagi menjunjung tinggi asas-asas kejujuran dan etika dalam menghasilkan karya ilmiah sendiri. Jika diamati tindakan tersebut tentu sudah jauh dari nilai-nilai akademik karena telah merusak etika mencari kebenaran melalui ilmu. Temuan penelitian di atas diperkuat oleh pernyataan Menteri Pendidikan Nasional, Muhammad Nuh yang menyatakan bahwa, tingginya angka tindakan plagiarisme menunjukkan lemahnya pendidikan karakter, budaya, dan moral insan di dunia akademik (Rachmad 2010).

Tindakan plagiarisme tidak hanya melanda kawasan dunia akademik di Asia dan kususnya Indonesia, namun juga telah melanda akademik di kawasan Amerika dan Eropa. Di Eropa penelitian tentang tindakan plagiarisme juga telah banyak dikaji oleh kalangan pakar pendidikan maupun ahli penelitian. Misalnya, penelitian yang dilakukan oleh (Ashworth & Bannister 1997) dengan judul Guilty in whose Eyes? University Students’ Perceptions of Cheating and Plagiarism in Academic Work and Assessment. Studies in Higher Education di Inggris. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa para mahasiswa di kampus tersebut kurang mempunyai informasi yang lengkap tentang apakah bentuk-bentuk tindakan yang dianggap sebagai plagiarisme. Perkara tersebut menyebabkan tindakan plagiarisme begitu bebas di kalangan mahasiswa ketika menyelesaikan tulisan-tulisan ilmiah pada perkuliahan.

Hasil penelitian di atas memperkuat dapatan kajian sebelumnya yang juga pernah dijalankan di dunia pendidikan Amerika oleh (Sierles 1988; Jendrek 1992; Pavela 1993; McCabe & Bowers 1994) mereka menyimpulkan bahwa 30% dari keseluruhan responden penelitian yang terdiri dari kalangan mahasiswa telah melakukan tindakan plagiarisme dalam membuat tugas-tugas perkuliahan mereka. Dan 70% lainnya pernah melakukan tindakan plagiarisme dalam bentuk yang bervariasi seperti, mengambil karya orang lain, mengambil ide pokok pikiran orang lain yang kemudian dijadikan hasil pemikiran sendiri dan mengambil tulisan orang tanpa mencantumkan sumbernya.

Hawley (1984) dengan judul Plagiarism in the University System. Improving College and University Teaching, kajian dilakukan kepada 425 orang mahasiswa. Beliau menyimpulkan 40% mahasiswa tersebut telah menggunakan iklan layanan penyediaan untuk memenuhi keperluan kuliah mereka. 12% mahasiswa pernah meminta bantuan mahasiswa lain untuk menyiapkan tugas mereka dan 21% mahasiswa mengaku telah mengantarkan tugas yang telah diselesaikan oleh oleh kawan mereka. Maka bila merujuk kepada hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti terdahulu yang dimulai tahun 1984 hingga 1997 di atas secara keseluruhan dapat peneliti simpulkan bahwa, perilaku plagiarisme secara jelas setidaknya telah menjadi budaya dalam dunia akademik oleh mahasiswa. Hal tersebut dapat dilihat melalui tingginya angka statistik perilaku plagiarisme dikalangan mahasiswa dari beberapa penelitian terdahulu.

4. Tujuan Penelitian

Secara umunya penelitian ini bertujuan untuk (i) mengetahui apakah bentuk-bentuk tindakan plagiarisme yang dilakukan oleh mahasiswa dalam menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan, (ii) apakah faktor-faktor penyebab timbulnya perilaku plagiarisme di kalangan mahasiswa.

4.1 Objektif Penelitian

  1. Bagaimanakah bentuk-bentuk perilaku plagiarisme yang dilakukan mahasiswa dalam menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan?
  2. Apakah faktor-faktor penyebab timbulnya perilaku plagiarisme dikalangan mahasiswa.

5. Metodelogi Penelitian

5.1.Reka Bentuk Penelitian

Reka bentuk penelitian merupakan sebuah tatacara mengumpul dan mengolah data berdasarkan perancangan kusus dan sistematik yang melibatkan seluruh variabel-variabel yang terlibat dalam sebuah penelitian (Chua 2006). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan kajian kes (case study research design). Menurut (Yin 1994) metode ini tepat digunakan apabila seorang peneliti ingin membuat penelitian terhadap unit sosial yang kecil, seperti individu, satu keluarga, sebuah perkampungan, organisasi atau sebuah sekolah. Menurut beberapa pakar penelitian kualitatif seperti (Denzin & Lincoln 1994; Bungin 2003) bahwa metode kualititatif dengan pendekatan kajian kes akan dapat membantu peneliti memahami permasalahan yang lebih kompleks dalam konteks yang lebih luas, walaupun unit yang terlibat dalam kajian kes agak kecil tetapi informasi yang diperolehi sangat mendalam. Adapun data penelitian dikumpulkan sepenuhnya melalui hasil wawancara mendalam dengan semua responden yang terlibat.

5.2. Responden Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti telah memilih sepuluh orang mahasiswa sebagai responden penelitian yang terdiri dari enam mahasiswa dan empat mahasiswi yang sedang belajar di Fakultas Tarbiyah IAIN-IB Padang. Adapun pemilihan responden penelitian tersebut dilakukan menggunakan teknik persampelan porpusive sampling, yaitu pemilihan responden penelitian tergantung kepada peneliti melihat responden yang ingin dipilih, adakah mereka dapat memberikan data sepenuhnya ataupun sebaliknya (Sugiyono 2005). Pendapat di atas diperkuat oleh Flick (1998) pemilihan responden untuk penelitian kualitatif adalah berdasarkan kepada keperluan data yang ingin dicari oleh peneliti. Sedangkan (Cresswel 2006) menyatakan bahwa pemilihan responden penelitian dalam sebuah kajian kualitatif tidak melihat kepada jumlah ataupun kuantitas sampel, namun yang terpenting adalah responden yang dipilih dapat memberikan data secara maksimal, sehingga data tersebut telah sampai kepada tingkat ketepuan data, (apabila responden telah memberikan data yang hampir sama).

5.3 Instrumen Penelitian

Alat penelitian ini adalah satu set protokol wawancara, yaitu panduan yang berisikan pertanyaan-pertanyaan wawancara yang diajukan ketika peneliti melakukan wawancawa kepada seluruh mahasiswa yang terlibat dalam penelitian. Pertanyan-pertanyaan wawancara tersebut peneliti buat dalam bentuk pertanyaan terbuka, yaitu peserta wawancara bebas menyatakan pendapat mereka berdasarkan soal-soal yang diberikan tanpa dibatasi. Namun demikian, pewawancara (peneliti) tetap memandu perbincangan agar tidak meluas kepada perkara-perkara yang tidak berkaitan dengan penelitian yang sedang dijalankan (Yin 1994). Agar terstrukturnya wawancara tersebut peneliti telah memilih panduan wawancara kualitatif yang dicadangkan oleh (Krueger 1994). Menurut beliau agar wawancara tersusun dengan rapi dan responden mudah memahami alur perbincangan maka peneliti penting menyusun protokol wawancara dalam beberapa bagian yaitu pertanyaan pembuka, pengenalan, transisi, kunci dan pertanyaan penutup.

5.4 Tatacara Analisis Data

Data yang telah peneliti dapatkan melalui wawancara mendalam (indepth interview) dengan semua responden dianalisis secara tematik. Menurut (Boyatzis 1998; Tuckeet 2005) analisis tematik adalah salah satu cara yang lebih fleksibel untuk mengidentifikasi, menganalisis dan melaporkan data yang dapat digunakan oleh seorang peneliti dalam sebuah penelitian kualitatif. Untuk mempermudah pembaca memahami hasil analisis tersebut peneliti juga menggunakan alat analisis penelitian kualitatif Nvivo 8 dengan menjadikan tema-tema tersebut menjadi sebuah sebuah model kurva. Sebelum seluruh data dimasukkan ke dalam alat analisis tersebut, seluruh hasil wawancara dengan semua responden dilakukan proses transkripsi berbentuk dialog atau verbatim. Kemudian data tersebut kembali dibaca secara berulang-ulang sampai peneliti memastikan tidak terjadi kesalahan-kesalahan transkripsi. Braun & Clarke (2012) menyatakan adalah penting bagi seorang peneliti untuk menyimak kembali data-data wawancara yang telah ditranskripsikan dengan cermat dan teliti dengan membaca secara berulang-ulang, sebelum peneliti memulai proses memasukkan data untuk menentukan tema-tema penting yang berkaitan dengan data yang hendak dicari. Selanjutnya peneliti mencari tema-tema penting dari hasil wawancara tersebut untuk diinput ke dalam alat analisis. Setelah selesai memasukkan data, proses dilanjutkan dengan analisis data dan diakhiri dengan laporan hasil kajian.

Perlu juga peneliti jelaskan bahwa Nvivo 8 merupakan sebuah alat analisis terkini dalam penelitian kualitatif yang bertujuan untuk memudahkan seorang peneliti mengorganisasikan, menganalisis dan melaporkan data-data penelitian kualitatif. Di Indonesia alat analisis ini belum banyak digunakan oleh para peneliti, karena secara umum masih banyak para peneliti yang bertahan dengan analisis tematik klasik atau secara manual.

 6. Hasil Penelitian

Pada bagian ini peneliti akan melaporkan semua hasil penelitian yang disusun berdasarkan tujuan dan objektif kajian. Sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya bahwa penelitian ini mempunyai beberapa objektif, yaitu (i) mengetahui apakah bentuk-bentuk tindakan plagiarisme yang dilakukan oleh mahasiswa dalam meyelesaikan tugas-tugas perkuliahan, (ii) apakah faktor-faktor penyebab timbulnya perilaku plagiarisme dikalangan mahasiswa. Selanjutnya laporan hasil penelitian ini akan disusun berdasarkan tujuan dari penelitian sebagaimaan telah diterangkan di atas.

6.1 Bentuk-Bentuk Tindakan Plagiarisme Yang Dilakukan Mahasiswa Dalam Menyelesaikan Tugas Perkuliahan.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dijalankan melalui wawancara mendalam (indepth interview) terhadap 10 orang mahasiswa pada Fakultas Tarbiyah di Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol (IAIN-IB) Padang, secara umumnya terdapat tiga tema penting yang berkaiatan dengan bentuk-bentuk tindakan plagiarisme yang sering dilakukan oleh mahasiswa dalam menyelesaikan tugas-tugas mata kuliah yang diberikan dosen dalam perkuliahan. Ketiga-tiga tema penting tersebut seperti terlihat pada tema model kurva di bawah.

Kode Keterangan Kode
M 1 Wawancara Mendalam dengan responden 1
M 2 Wawancara Mendalam dengan responden 2
M 3 Wawancara Mendalam dengan responden 3
M 4 Wawancara Mendalam dengan responden 4
M 5 Wawancara Mendalam dengan responden 5
M 6 Wawancara Mendalam dengan responden 6
M 7 Wawancara Mendalam dengan responden 7
M 8 Wawancara Mendalam dengan responden 8
M.9Wawancara Mendalam dengan responden 9
M10 Wawancara Mendalam dengan responden 10

Published in: on Desember 7, 2015 at 1:35 pm  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://engkizarquran.wordpress.com/2015/12/07/141/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. Reblogged this on Engkizarquran' Blog.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: